Uangmu, pelan-pelan — enam cerita, lima tahap soal uang
🔒 Aman. Jawabanmu tidak dikirim ke mana-mana. Semuanya tetap di HP kamu sendiri.
Enam cerita, lima tahap.
Mereka bukan orang hebat. Cuma orang biasa dengan masalah uang yang berbeda-beda. Cari yang paling mirip sama kamu.
Mulai dari yang paling dekat.
Ini bukan nilai rapor. Cuma penanda: mana yang sebaiknya dibereskan lebih dulu.
Cek dulu, kamu di bab mana?
Kamu pernah mencatat pengeluaran?
Kalau semua cicilan dijumlah, apakah lebih dari sepertiga gaji?
Kalau besok berhenti kerja, tabunganmu cukup untuk 6 bulan?
Kamu sudah punya tabungan atau investasi untuk masa tua?
Uangmu pergi ke mana?
Rina bukan orang boros. Dia cuma belum pernah lihat uangnya keluar ke mana saja.
Kamu belum perlu hemat. Yang perlu sekarang cuma satu: lihat dulu kenyataannya.
Catat satu pengeluaran hari ini. Beli kopi Rp18 ribu — tulis. Bayar parkir Rp5 ribu — tulis. Tidak usah nunggu tanggal 1.
Dua minggu saja biasanya sudah kelihatan satu kebiasaan yang bikin kaget. Biasanya bukan yang besar, tapi yang kecil dan sering.
Banyak orang mulai dengan bikin anggaran. Itu kebalik. Bikin anggaran sebelum tahu kebiasaan belanja sendiri hampir pasti meleset di bulan pertama — lalu orangnya merasa gagal dan berhenti.
Alat untuk bab ini
Kamu sudah punya catatan yang cukup untuk melihat satu kebiasaan.
Cicilan yang menumpuk
Waktu diambil satu-satu, semua cicilan Budi kelihatan ringan. Motor Rp900 ribu. HP Rp450 ribu. Paylater Rp650 ribu. Pinjaman tunai Rp1,8 juta.
Yang berat itu totalnya. Dan Budi tidak pernah menjumlahkannya sekaligus.
Jumlahkan semua yang harus kamu bayar tiap bulan. Lalu bagi dengan gaji yang benar-benar masuk ke rekeningmu.
Punya Budi: Rp3,8 juta dibagi Rp8 juta = 47%. Artinya hampir separuh gajinya sudah habis sebelum dipakai hidup.
Jangan lewat 35%
Kalau lewat 35%, satu kejadian tak terduga saja — motor mogok, anak sakit — sudah cukup bikin pembayaran meleset.
Itu bukan 12% setahun. Kalau pakai hitungan flat, pokok utangmu dianggap tidak pernah berkurang. Bunga sebenarnya bisa hampir dua kali lipat dari yang tertulis. Ini yang bikin banyak pinjaman terasa jauh lebih berat dari perkiraan.
Alat untuk bab ini
Total cicilanmu sudah turun di bawah 35% dari gaji.
Simpanan buat jaga-jaga
Ini bab yang paling sering dilewati orang. Begitu cicilan beres, banyak yang langsung pengin investasi — karena itu yang kedengarannya menarik.
Padahal kalau belum punya simpanan cadangan, satu masalah kecil saja bisa bikin kamu berutang lagi. Balik ke bab dua.
Uang yang kamu simpan khusus buat keadaan darurat. Kena PHK, masuk rumah sakit, motor rusak, atap bocor.
Bukan buat liburan, bukan buat beli HP baru. Kalau dipakai buat itu, namanya bukan simpanan darurat.
Berapa banyak?
Ukurannya bukan jumlah rupiah, tapi berapa bulan kamu bisa hidup tanpa penghasilan.
Hitung dulu pengeluaran wajib sebulan — yang tetap harus keluar walau kamu di rumah saja. Makan, listrik, air, sewa, transport, sekolah anak.
Kumpulkan bulan demi bulan
Tiga bulan dulu sebagai awal. Enam bulan atau lebih kalau penghasilanmu naik-turun, atau kamu punya tanggungan.
Simpanan darurat bukan investasi. Tujuannya bisa diambil cepat tanpa rugi, bukan buat untung. Kalau ditaruh di tempat yang nilainya bisa turun, kamu bisa terpaksa mencairkannya waktu sedang rugi — tepat waktu kamu paling butuh.
Sambil itu, atur pembagian gajinya
50 / 30 / 20
Yang menentukan bukan nama barangnya, tapi buat apa. Cicilan rumah masuk kelompok wajib. Cicilan HP terbaru masuk kelompok boleh.
Simpanan jaga-jagamu sudah cukup untuk enam bulan hidup.
Kasih tujuan buat sisa uang
Sisa uang yang tidak punya tujuan punya kebiasaan buruk: dia habis sendiri.
Penghasilan naik sedikit, belanja ikut naik sedikit. Setahun kemudian saldonya segitu-segitu saja. Maya sudah mengalami ini tiga tahun berturut-turut.
Jadi sebelum mikirin untung, tentukan dulu: uang ini buat apa? Renovasi dapur? Sekolah anak? Ganti mobil? Kasih nama, kasih target, kasih tanggal.
Kalau tujuannya beli kendaraan
20 / 4 / 10
Angka ketiga yang paling sering dilupakan. Sepuluh persen itu bukan cicilan doang — sudah termasuk bensin, servis, pajak, asuransi, dan parkir. Cicilan yang tadinya terasa ringan bisa jadi berat setelah semuanya dijumlah.
Mereka merasa mampu. Bank juga bilang mampu. Tapi begitu dihitung pakai aturan di atas, jawabannya tidak.
Kenapa belum lolos
10% dari Rp20 jutaRp2 jt
sudah makan duluanRp1,2 jt
Mobil Rp250 juta dengan uang muka 20% dan tenor 4 tahun cicilannya Rp4,8 juta per bulan. Enam kali lipat dari ruang yang tersedia.
Angkanya tidak bilang kamu tidak boleh punya mobil. Angkanya bilang: jangan dicicil. Mereka sudah punya dana mobil Rp35 juta. Kalau menambah Rp4 juta per bulan selama dua tahun, dana itu bertambah Rp96 juta menjadi sekitar Rp131 juta — jauh lebih masuk akal untuk mencari mobil bekas tunai tanpa menyentuh dana darurat. Setelah itu mereka tinggal menguji biaya jalan bulanannya.
72 dibagi bunga = berapa tahun uangmu jadi dua kali lipat.
Untung 6% setahun? 72 ÷ 6 = 12 tahun. Ini juga berlaku terbalik: utang berbunga 24% setahun akan jadi dua kali lipat dalam 3 tahun.
Aturan yang kamu jalankan setengah-setengah selama dua tahun jauh lebih berguna daripada aturan sempurna yang kamu tinggalkan setelah tiga minggu.
Alat untuk bab ini
Satukan aset, siapkan masa tua
John punya masalah yang berbeda dari lima cerita sebelumnya: uangnya ada, tetapi tersebar. Kalau tiap rekening dan investasi dilihat sendiri-sendiri, sulit tahu posisi sebenarnya.
Satukan dulu semuanya
Kekayaan bersih Rp1,65 M
Total aset Rp2,05 miliar dikurangi utang Rp400 juta = Rp1,65 miliar. Setelah gambaran ini kelihatan, barulah pertanyaan pensiun John bisa dihitung dengan masuk akal.
Di tahap ini yang dicari bukan lagi untung sebesar-besarnya. Yang penting: uangnya masih ada waktu dibutuhkan.
Pisahkan uangmu berdasarkan kapan mau dipakai. Uang yang dipakai tahun depan tidak boleh diperlakukan sama dengan uang yang baru dipakai 15 tahun lagi.
Kapan uangnya dipakai?
Yang menentukan bukan cuma umur, tapi kapan uangnya dibutuhkan dan seberapa siap kamu kalau nilainya turun sementara. Periksa lagi setahun sekali.
Berapa yang perlu dikumpulkan?
Ada perkiraan kasar yang gampang: pengeluaran sebulan dikali 300.
Perkiraan kasar
dikali 300Rp3 M
dari Rp3 miliarRp120 jt
Rp120 juta setahun berarti sekitar Rp10 juta sebulan. Tapi ini baru hitungan kasar — belum menghitung harga-harga yang terus naik, biaya, dan pajak.
John sudah sampai mana?
Hampir, tapi harus sengaja
jika diarahkan untuk pensiun dan tumbuh 15 tahunRp1,79 M
masih kurangRp1,21 M
tiap bulan selama 15 tahunRp3,8 jt
Dari gaji Rp18 juta, setelah cicilan rumah Rp4,8 juta dan setoran Rp3,8 juta, tersisa sekitar Rp9,4 juta untuk hidup. Muat — tapi tidak ada ruang untuk menunda.
Angka 4% berasal dari sejarah pasar Amerika. Ada penelitian (Wade Pfau) yang menemukan angka itu cuma aman di 4 dari 17 negara maju yang diuji. Belum ada penelitian sejenis khusus Indonesia. Jadi coba juga hitung pakai 3% dan 3,5% — supaya rencanamu tidak bergantung pada satu angka saja.
Alat untuk bab ini
Bukan berhenti mengatur uang. Tapi punya sistem yang tetap jalan waktu kamu sudah tidak bekerja lagi.